Populer

Tampilkan postingan dengan label muhammadiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muhammadiyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juli 2016

Aqidah Muhammadiyah Allah Bersemayam Di Atas Arasy


ALLAH BERSEMAYAM DI ARSY


Tanya:

Ada seorang muballigh dari luar Batang menjelaskan bahwa Allah tidak beada di atas, berdasarkan surah Qaf ayat 16. Kami masih ragu-ragu, sebab selama ini kami pahami bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy. Apa pemahaman kami ini yang keliru? Mohon penjelasannya!

Jawab:

Sebelum kami jelaskan masalah yang anda tanyakan kami kutipkan terlebih dahulu ayat-ayat yang menyatakan Allah bersemayam di atas ‘Arsy dan ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah adalah sangat dekat dengan kita:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِىْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِىْ سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhn ya Tuhan kami ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy…” (al-A’raf: 54)
Ayat-ayat yang menyebutkan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy diulang sebanyak 8 kali :

   إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka Apakah kamu tidak mengambil pelajaran? [Yunus 3 ]


وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini Pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.[Arra’du : 2]


الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
  
(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy[Thaha 5].


الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا

. Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy[1071], (Dialah) yang Maha pemurah, Maka Tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. [Al-Furqan 59]


 إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
.
  
 Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at Maka Apakah kamu tidak memperhatikan? [ Yunus 3 ]

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ
   
Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati". [Fushilat 11]


هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. [Al Hadits 4 ]

Ayat-ayat tersebut semuanya menjelaskan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy.
Adapun ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah adalah dekat disebutkan dalam al-Qur’an sebanak 5 kali, antara lain ialah:

... وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ ...

“… dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya…” (Qaf: 16)
Kemudian disebutkan pada surah al-Baqarah: 186, Hud: 61, Saba’: 50, dan al-Waqi’ah: 85.
Ayat-ayat tersebut memberikan pengertian bahwa Allah sangat dekat kepada kita. Jika dilihat secara sepintas, seakan-akan ayat-ayat tersebut bertentangan, antara ayat yang menyatakan bahwa Allah adalah jauh, dan ayat yang menyatakan bahwa Allah adalah dekat. Sebenarnya ayat-ayat tersebut tidaklah bertentangan, sebab dapat dikompromikan antara satu ayat dengan ayat lainnya.

Pengertian ‘Arsy

‘Arsy, para ahli bahasa mengartikan ‘Arsy sebagai singgasana, bangunan, istana, atau tahta. Kata tersebut berasal dari ‘arasya – ya’rusyu, yang berarti membangun.
Para ulama berbeda pendapat mengenai makna ‘Arsy; Rasyid Ridha dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ‘arsy adalah pusat pengendalian segala persoalansemua makhluk Allah swt di alam semesta, sebagaimana dijelaskan firman Allah pada surah Yunus: 3 (ثم استوى على العرش) “Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy”


Gambaran fisik ‘Arsy, merupakan hal gaib yang tiada seorang pun dapat mengetahuinya, kecuali Allah, dimana letaknya dan berapa besarnya. Masalah ‘Arsy telah lama menjadi topic pembicaraan yang kontroversial, apakah ‘Arsy itu bersifat material ataukah bersifat immaterial.

Hal ini terjadi karena tidak ada penjelasan rinci baik dalam al-Qur’an maupun dalam hadis. Al-Qur’an hanya menjelaskan bahwa al-‘Arsy adalah singgasana. Maka kami berpendapat bahwa kita wajib meyakini keberadaannya, yang hakikatnya hanya diketahui Allah swt, kita tidak perlu mencari-cari seberapa besarnya dan seberapa jauhnya atau tingginya.
Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah beristiwa’ atau bersemayam di atas ‘Arsy, dan kita wajib beriman kepadaNya dengan tidak perlu bertanya-tanya bagaimana dan dimana.

Adapun yang dimaksud dengan qarib (dekat) ialah: bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, Dia mendengar perkataan manusia, dan melihat segalam macam perbuatannya, tidak ada hijab antara Allah dan manusia, tiada perantara atau wali yang menyampaikan doa mereka kepada Allah, tiada yang membantuNya dalam mengabulkan permohonan manusia kepadaNya, Allah akan mengabulkan doa manusia tanpa perantara seorangpun, apabila seseorang berdoa kepadaNya, sebab Allah-lah yang menciptakannya, Dia Maha Mengetahui segala apa yang ada dalam hati setiap orang. Demikianlah yang dimaksud dengan ‘aqrabu ilaihi min hablil warid’ (lebih dekat kepadaNya daripada urat leher) yang disebutkan dalam surah Qaf: 16.

Maka jelaslah, bahwa ayat-ayat tersebut tidak bertentangan antara ayat yang menyatakan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy, dengan ayat yang menyatakan bahwa Allah swt sangat dekat denga kita.


Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Komentar Saya [ Zulkarnain El-Madury] : Sikap yang di ambil oleh tarjih ini memberikan jawaban yang benar di mana Allah semestinya, sebagaimana juga diterangkan ayat ayat Allah yang lain termasuk berbagai atsar ulama tentang  “dimana Allah” . memberikan jaminan kebenaran kepada mereka yang ber-aqidah “Allah bersemayam di atas Arsy”

   أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, [Al- Muluk 16 ]

Dan Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :
أَلاَ تَأْمَنُوْنِيْ وَأَنَا أَمِيْنٌ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Tidaklah kalian percaya kepadaku, padahal saya adalah kepercayaan dzat yang di langit”(HR. Bukhari dan Muslim). Dan arti di langit adalah di atas langit.”

1. Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ -فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ- إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي

“Ketika Allah menciptakan makhluk (maksudnya menciptakan jenis makhluk), Dia menuliskan di kitab-Nya (Al-Lauh Al-Mahfuzh) – dan kitab itu bersama-Nya di atas ‘Arsy (singgasana) – : “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu bahwa Nabi shollallahu’alaihiwasallam memegang tangannya (Abu Hurairah) dan berkata:

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، إِنَّ اللهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرَضِيْنَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, dishahihkan Al-Albani dalam Mukhtasharul ‘Uluw)

3. Hadits Qatadah bin An-Nu’man rodiallahu’anhu bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

لَمَّا فَرَغَ اللهُ مِنْ خَلْقِهِ اسْتَوَى عَلَى عَرْشِهِ.

“Ketika Allah selesai mencipta, Dia berada di atas ‘Arsy singgasana-Nya.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah, dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dan Adz-Dzahabi berkata: Para perawinya tsiqah)

Adapun ‘Arsy, secara bahasa artinya Singgasana kekuasaan. ‘Arsy adalah makhluk tertinggi. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

“Maka jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Al-Firdaus, karena sungguh ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya singgasana Sang Maha Pengasih, dan darinya sungai-sungai surga mengalir.” (HR. Al-Bukhari)

Arsy juga termasuk makhluk paling besar. Allah menyifatinya dengan ‘adhim (besar) dalam Surat An-Nahl: 26. Ibnu Abbas rodiallahu’anhu berkata:

الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ ، وَالْعَرْشُ لاَ يَقْدِرُ قَدْرَهُ إِلاَّ اللهُ تعالى.

“Kursi adalah tempat kedua kaki (Allah), dan ‘Arsy (singgasana) tidak ada yang mengetahui ukurannya selain Allah Ta’ala.” (Hadits mauquf riwayat Al-Hakim dan dishahihkan Adz-Dzahabi dan Al-Albani)

PENDAPAT IMAM IMAM MAZHAB :

Abu Hanifah :
Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy -pemilik kitab Al Fiqhul Akbar–[3], beliau berkata,

سألت أبا حنيفة عمن يقول لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض فقال قد كفر لأن الله تعالى يقول الرحمن على العرش استوى وعرشه فوق سمواته  فقلت إنه يقول أقول على العرش استوى ولكن قال لا يدري العرش في السماء أو في الأرض  قال إذا أنكر أنه في السماء فقد كفر رواها صاحب الفاروق بإسناد عن أبي بكر بن نصير بن يحيى عن الحكم

Aku bertanya pada Abu Hanifah mengenai perkataan seseorang yang menyatakan, “Aku tidak mengetahui di manakah Rabbku, di langit ataukah di bumi?” Imam Abu Hanifah lantas mengatakan, “Orang tersebut telah kafir karena Allah Ta’ala sendiri berfirman,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”.[ QS. Thaha: 5.] Dan ‘Arsy-Nya berada di atas langit.” Orang tersebut mengatakan lagi, “Aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas ‘Arsy.” Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah ‘Arsy, di langit ataukah di bumi. Abu Hanifah lantas mengatakan, “Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.”[ Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, Adz Dzahabi, hal. 135-136, Maktab Adhwaus Salaf, Riyadh, cetakan pertama, 1995.]

IMAM MALIK BIN ANAS IMAM DARUL HIJROH MEYAKINI ALLAH DI ATAS LANGIT:

Dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal ketika membantah paham Jahmiyah, ia mengatakan bahwa Imam Ahmad mengatakan dari Syraih bin An Nu’man, dari Abdullah bin Nafi’, ia berkata bahwa Imam Malik bin Anas mengatakan,
الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء

“Allah berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya”. [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 138.]

Diriwayatkan dari Yahya bin Yahya At Taimi, Ja’far bin ‘Abdillah, dan sekelompok ulama lainnya, mereka berkata,

جاء رجل إلى مالك فقال يا أبا عبد الله الرحمن على العرش استوى كيف استوى قال فما رأيت مالكا وجد من شيء كموجدته من مقالته وعلاه الرحضاء يعني العرق وأطرق القوم فسري عن مالك وقال الكيف غير معقول والإستواء منه غير مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة وإني أخاف أن تكون ضالا وأمر به فأخرج

“Suatu saat ada yang mendatangi Imam Malik, ia berkata: “Wahai Abu ‘Abdillah (Imam Malik), Allah Ta’ala berfirman,
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”[Thaha 5]. Lalu bagaimana Allah beristiwa’ (menetap tinggi)?” Dikatakan, “Aku tidak pernah melihat Imam Malik melakukan sesuatu (artinya beliau marah) sebagaimana yang ditemui pada orang tersebut. Urat beliau pun naik dan orang tersebut pun terdiam.” Kecemasan beliau pun pudar, lalu beliau berkata,

الكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ وَالإِسْتِوَاءُ مِنْهُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ وَالإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ وَإِنِّي أَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ ضَالاًّ

“Hakekat dari istiwa’ tidak mungkin digambarkan, namun istiwa’ Allah diketahui maknanya. Beriman terhadap sifat istiwa’ adalah suatu kewajiban. Bertanya mengenai (hakekat) istiwa’ adalah bid’ah. Aku khawatir engkau termasuk orang sesat.” Kemudian orang tersebut diperintah untuk keluar.

[Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 378.]

IMAM ASY SYAFI’I YANG MENJADI RUJUKAN MAYORITAS KAUM MUSLIMIN DI INDONESIA DALAM MASALAH FIQIH- MEYAKINI ALLAH BERADA DI ATAS LANGIT

Syaikhul Islam berkata bahwa telah mengabarkan kepada kami Abu Ya’la Al Kholil bin Abdullah Al Hafizh, beliau berkata bahwa telah memberitahukan kepada kami Abul Qosim bin ‘Alqomah Al Abhariy, beliau berkata bahwa Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Roziyah telah memberitahukan pada kami, dari Abu Syu’aib dan Abu Tsaur, dari Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (yang terkenal dengan Imam Syafi’i), beliau berkata,

القول في السنة التي أنا عليها ورأيت اصحابنا عليها اصحاب الحديث الذين رأيتهم فأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الإقرار بشهادة ان لااله الا الله وان محمدا رسول الله وذكر شيئا ثم قال وان الله على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وان الله تعالى ينزل الى السماء الدنيا كيف شاء وذكر سائر الاعتقاد

Perkataan dalam As Sunnah yang aku dan pengikutku serta pakar hadits meyakininya, juga hal ini diyakini oleh Sufyan, Malik dan selainnya : “Kami mengakui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. Kami pun mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Lalu Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya yang berada di atas langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.” Kemudian beliau rahimahullah menyebutkan beberapa keyakinan (i’tiqod) lainnya.[ Lihat Itsbatu Shifatul ‘Uluw, hal. 123-124. Disebutkan pula dalam Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal.165]


Imam Ahmad bin Hambal Meyakini Allah bukan Di Mana-mana, namun di atas ‘Arsy-Nya

Adz Dzahabiy rahimahullah mengatakan, “Pembahasan dari Imam Ahmad mengenai ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya amatlah banyak. Karena beliaulah pembela sunnah, sabar menghadapi cobaan, semoga beliau disaksikan sebagai ahli surga. Imam Ahmad mengatakan kafirnya orang yang mengatakan Al Qur’an itu makhluk, sebagaimana telah mutawatir dari beliau mengenai hal ini. Beliau pun menetapkan adanya sifat ru’yah (Allah itu akan dilihat di akhirat kelak) dan sifat Al ‘Uluw (ketinggian di atas seluruh makhluk-Nya).”

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya,

ما معنى قوله وهو معكم أينما كنتم و ما يكون من نجوى ثلاثه الا هو رابعهم قال علمه عالم الغيب والشهاده علمه محيط بكل شيء شاهد علام الغيوب يعلم الغيب ربنا على العرش بلا حد ولا صفه وسع كرسيه السموات والأرض

“Apa makna firman Allah,
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
“Dan Allah bersama kamu di mana saja kamu berada.”
مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.”
Yang dimaksud dengan kebersamaan tersebut adalah ilmu Allah. Allah mengetahui yang ghoib dan yang nampak. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi. Namun Rabb kita tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy, tanpa dibatasi dengan ruang, tanpa dibatasi dengan bentuk. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Kursi-Nya pun meliputi langit dan bumi.”

Diriwayatkan dari Yusuf bin Musa Al Ghadadiy, beliau berkata,

قيل لأبي عبد الله احمد بن حنبل الله عز و جل فوق السمآء السابعة على عرشه بائن من خلقه وقدرته وعلمه بكل مكان قال نعم على العرش و لايخلو منه مكان

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanyakan, “Apakah Allah ‘azza wa jalla berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, sedangkan kemampuan dan ilmu-Nya di setiap tempat (di mana-mana)?” Imam Ahmad pun menjawab, “Betul sekali. Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, setiap tempat tidaklah lepas dari ilmu-Nya.”[ Lihat Itsbat Sifatil ‘Uluw, hal. 116]

Abu Bakr Al Atsrom mengatakan bahwa Muhammad bin Ibrahim Al Qoisi mengabarkan padanya, ia berkata bahwa Imam Ahmad bin Hambal menceritakan dari Ibnul Mubarok ketika ada yang bertanya padanya,
كيف نعرف ربنا
“Bagaimana kami bisa mengetahui Rabb kami?” Ibnul Mubarok menjawab,
في السماء السابعة على عرشه
“Allah di atas langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya.” Imam Ahmad lantas mengatakan,
هكذا هو عندنا
“Begitu juga keyakinan kami.”[ Lihat Itsbat Sifatil ‘Uluw, hal. 118]

HARUS KITA YAKIN ALLAH BERSEMAYAM DIATAS ARASY-NYA
Ini bukti ijma’ ulama yang dibawakan oleh Ishaq bin Rohuwyah.

قال أبو بكر الخلال أنبأنا المروذي حدثنا محمد بن الصباح النيسابوري حدثنا أبو داود الخفاف سليمان بن داود قال قال إسحاق بن راهويه قال الله تعالى الرحمن على العرش استوى إجماع أهل العلم أنه فوق العرش استوى ويعلم كل شيء في أسفل الأرض السابعة

“Abu Bakr Al Khollal mengatakan, telah mengabarkan kepada kami Al Maruzi. Beliau katakan, telah mengabarkan pada kami Muhammad bin Shobah An Naisaburi. Beliau katakan, telah mengabarkan pada kami Abu Daud Al Khonaf Sulaiman bin Daud. Beliau katakana, Ishaq bin Rohuwyah berkata, “Allah Ta’ala berfirman,
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”[. QS. Thaha: 5] Para ulama sepakat (berijma’) bahwa Allah berada di atas ‘Arsy dan beristiwa’ (menetap tinggi) di atas-Nya. Namun Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bawah-Nya, sampai di bawah lapis bumi yang ketujuh.

Adz Dzahabi rahimahullah ketika membawakan perkataan Ishaq di atas, beliau rahimahullah mengatakan,

اسمع ويحك إلى هذا الإمام كيف نقل الإجماع على هذه المسألة كما نقله في زمانه قتيبة المذكور

Dengarkanlah perkataan Imam yang satu ini. Lihatlah bagaimana beliau menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) mengenai masalah ini. Sebagaimana pula ijma’ ini dinukil oleh Qutaibah di masanya. [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 179. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 194.]

Hati Hati Dengan Jahmiyah/ Mu’tazilah Indonesia [ Mereka Menuduh Para Mujtahidpun Sebagai  Mujassimah

فالمعتزلة والجهمية ونحوهم من نفاة الصفات يجعلون كل من أثبتها مجسما مشبها ومن هؤلاء من يعد من المجسمة والمشبهة من الأئمة المشهورين كمالك والشافعي وأحمد وأصحابهم كما ذكر ذلك أبو حاتم صاحب كتاب الزينة وغيره

“Mu’tazilah, Jahmiyah dan semacamnya yang menolak sifat Allah, mereka menyebut setiap orang yang menetapkan sifat bagi Allah sebagai mujassimah atau musyabbihah. Bahkan di antara mereka menyebut para Imam besar yang telah masyhur (seperti Imam Malik, Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad dan pengikut setia mereka) sebagai mujassimah atau musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Sebagaimana hal ini disebutkan oleh Abu Hatim, penulis kitab Az Zinah dan ulama lainnya. [Minhajus Sunnah Nabawiyah fii Naqdi Kalamisy Syi’ah wal Qodariyah, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, 2/44, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1406 H]


Abu Nu’aim Al Ash-bahani, penulis kitab Al Hilyah. Beliau rahimahullah, “Metode kami (dalam menetapkan sifat Allah) adalah jalan hidup orang yang mengikuti Al Kitab, As Sunnah dan ijma’ (konsensus para ulama). Di antara i’tiqod (keyakinan) yang dipegang oleh mereka (para ulama) bahwasanya hadits-hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan Allah berada di atas ‘Arsy dan mereka meyakini bahwa Allah beristiwa’ (menetap tinggi) di atas ‘Arsy-Nya. Mereka menetapkan hal ini tanpa melakukan takyif (menyatakan hakekat sifat tersebut), tanpa tamtsil (memisalkannya dengan makhluk) dan tanpa tasybih (menyerupakannya dengan makhluk). Allah sendiri terpisah dari makhluk dan makhluk pun terpisah dari Allah. Allah tidak mungkin menyatu dan bercampur dengan makhluk-Nya. Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya di langit sana dan bukan menetap di bumi ini bersama makhluk-Nya.”[ Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, 5/60, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.]

Dengan demekian fatwa Tarjih Muhammadiyah menyatakan :”Allah Bersemayam diatas langit merupakan sebuah kebenaran yang sejaran dengan para ulama sejak jaman sahabat hingga Imam Mujtahid.





Jumat, 03 Juni 2016

Kitab Puasa [HPT] Muhammadiyah



PENDAHULUAN
Firman Allah swt dalam surat al Baqarah 183 – 187

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183(
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa [Al-Baqarah 183 ]

 أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (184(

184.  (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.[al Baqarah 184]


 شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (185(
185.  (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur [al Baqarah 185]
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (186(
186.  Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.[Al Baqarah 186]

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (187(

187.  Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah Pakaian bagimu, dan kamupun adalah Pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang Telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf[115] dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. [al Baqarah 187)

[114]  maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.
[115]  I'tikaf ialah berada dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.

1. Bila kamu menyaksikan datangnya bulan Ramadhan

    Menilik ayat yang tersebut dalam pendahuluan (surat al Baqarah 185)

……..فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ…….

     ………Maka siapa diantaramu yang menyaksikan bulan, maka berpuasalah  ………….

2. Dengan melihat bulan

حدثنا آدم حدثنا شعبة حدثنا محمد بن زياد قال سمعت أبا هريرة رضي الله عنه يقول  :  قال النبي صلى الله عليه و سلم أو قال قال
أبو القاسم صلى الله عليه و سلم ( صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين
)

Dari Abu Hurairah ra Rasulullah saw bersabda : Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah (shalat hari raya) karena melihat hilal dan jika tertutup awan, maka sempurnakanlah bilangan sya’ban 30 hari.   HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasai, Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi, al Hakim, Thabrani, Ibnu Asakir, at Thayalisi, Syafi’i, Abu Ya’la

3. Atau persaksian orang yang adil
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ ، حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ ، حَدَّثَنَا أَبُو الْبَخْتَرِيِّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ شَاكِرٍ ، حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ ، حَدَّثَنَا زَائِدَةُ ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ ، عَنْ عِكْرِمَةَ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : جَاءَ أَعْرَابِيُّ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، فَقَالَ : إِنِّي رَأَيْتُ الْهِلالَ يَعْنِي هِلالَ رَمَضَانَ ، فَقَالَ : أَتَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : يَا بِلالُ ، أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنْ يَصُومُوا غَدًا
Dari Ibnu Abbas  dia berkata : Seorang Arab Baduwi datang kepada nabi saw dan berkata : Saya telah melihal hilal (maksudnya hilal Ramadhan). Maka nabi bertanya : Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada tuhan melainkan hanya Allah ? Dia menjawab ya. Maka nabi bertanya : Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad itu rasul Allah ? Dia menjawab ya. Maka nabi berkata : Hai Bilal umumkan kepada manusia (orang banyak) supaya esok berpuasa.
HR Abu Daud, Turmizi, Baihaqi, Daruqutni, Ibnu Abi Syaibah, Abdur Razaq, al Hakim, at Thabari, ad Darimi.

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : { تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلَالَ ، فَأَخْبَرْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي رَأَيْتُهُ ، فَصَامَ ، وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ } .   رَوَاهُ أَبُو دَاوُد ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ وَابْنُ حِبَّانَ .

Dari Ibnu Umar ra kata nya : Orang-orang sama melihat bulan, lalu aku khabarkan kepada Rasulullah saw bahwasanya aku melihatnya. Maka beliau berpuasa dan menyuruh orang-orang berpuasa juga. HR Abu Daud dan disahihkan oleh al Hakim dan Ibnu Hibban. Juga diriwayatkan olehThabrani,Daruqutni, ad Darimi.

4. Atau dengan menyempurnakan bulan Sya’ban 30 (tiga puluh) hari apabila ber awan

Berdasarkan hadits diatas :
حدثنا آدم حدثنا شعبة حدثنا محمد بن زياد قال سمعت أبا هريرة رضي الله عنه يقول  :  قال النبي صلى الله عليه و سلم أو قال قال أبو القاسم صلى الله عليه و سلم ( صُومُوا لِرُؤيَـتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤيَـتِهِ فَإِنْ غُبِيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ )
Dari Abu Hurairah ra Rasulullah saw bersabda : Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah (shalat hari raya) karena melihat hilal dan jika tertutup awan, maka sempurnakanlah bilangan sya’ban 30 hari.   HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasai, Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi, al Hakim, Thabrani, Ibnu Asakir, at Thayalisi, Syafi’i, Abu Ya’la

5. Atau dengan hisab
Berdasarkan al Qur an surat Yunus ayat 5
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (5
Artinya : Dialah (Allah) yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, serta menentukan beberapa manzilah (gugus), agar kamu mengerti bilangan tahun dan perhitungan waktu. Allah tidak menciptakan hal itu kecuali dengan alasan yang benar, dia menjelaskan ayat-ayatnya kepada orang yang mengetahui.

Dan berdasarkan hadits :

حَدَّثَنِى حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِى يُونُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِى سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ - رضى الله عنهما - قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ».

Bahwa Abdullah bin Umar ra berkata : Saya mendengar Rasulullah saw berkata : Apabila kamu melihatnya (hilal bulan Ramadhan) maka berpuasalah, dan bila kelak melihatnya (hilal bulan Syawal) maka berbukalah (ber hari rayalah). Dan jika tertutup oleh awan, maka hitunglah (kira-kirakanlah bulan itu.) HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Nasai, Malik, Ibnu Abi Syaibah, Abdur Razak, at Thayalisi, Syafi’i, Ibnu Khuzaimah, ad Darimi, Daruqutni, Baihaqi, al Hakim, Ibnu Hibban

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ هُوَ الشَّيْبَانِىُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ شَاذَانَ الأَصَمُّ حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ أَيُّوبَ ح وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ : عَلِىُّ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمُقْرِئُ أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« إِنَّمَا الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ ، فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ »

Dari Ibnu Umar : Rasulullah saw bersabda : Bulan itu hanya 29 hari, maka janganlah kamu berpuasa kecuali setelah melihat tanggal (hilal) dan kelak jangan kamu berbuka (berhari raya) kecuali sesudah melihatnya (hilal). Dan jika tertutup awan, maka hitunglah.           HR Muslim, Ahmad, Baihaqi, Ibnu Hibban, ad Darimi, dan Daruqutni.

6. Maka puasalah dengan ikhlas niyatmu karena Tuhan Allah swt belaka.

Berdasarkan firman Allah dalam surat al Bayyinah ayat 5 :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء

Artinya : Dan tidaklah mereka diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan diri dalam beragama dengan lurus. Surat al Bayyinah 5




7. Dan berniatlah puasa sebelum fajar.

حَدَّثَنَا أَبُو يَزِيدَ الْقَرَاطِيسِيُّ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بن عَبْدِ الْحَكَمِ، أنا اللَّيْثُ بن سَعْدٍ، وَيَحْيَى بن أَيُّوبَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن أَبِي بَكْرٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَالِمٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ حَفْصَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلا صِيَامَ لَهُ.

Dari Hafsah dari Nabi saw berkata : Siapa yang tidak berniat sebelum fajar, maka tidak sah puasanya. HR Ahmad, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Baihaqi, Thabrani, Ibnu Khuzaimah, As Sayuthi.

8. Kecuali bila kamu (wanita) sedang datang bulan atau sedang nifas, maka
    berbukalah dan gantilah puasa pada hari lainnya.
                                                                                 
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِى مَرْيَمَ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِى زَيْدٌ - هُوَ ابْنُ أَسْلَمَ - عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فِى أَضْحًى - أَوْ فِطْرٍ - إِلَى الْمُصَلَّى ، فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ « يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ ، فَإِنِّى أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ » . فَقُلْنَ وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ ، مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ » . قُلْنَ وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ » . قُلْنَ بَلَى . قَالَ « فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا ، أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ » . قُلْنَ بَلَى . قَالَ « فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا »

Dari Abi Said al Khudri dia berkata : Rasulullah saw keluar menuju (mushalla) lapangan untuk shalat Idul Adha atau idul Fithri, dan beliau lewat didepan para wanita. Nabi berkata : Wahai para wanita banyak lah bersedekah, karena saya melihat banyak diantara kamu yang masuk neraka. Mereka (wanita) bertanya : Kenapa ya Rasulullah ? Jawab nabi : Karena kamu banyak mengutuk dan mengingkari suami. Saya melihat kekurangan akal dan agama yang menyebabkan perginya hati laki-laki dari kamu. Mereka bertanya lagi : Apa kekurangan agama dan akal kami ya Rasulullah ? Jawabnya : Bukankah kesaksian wanita hanya separo kesaksian laki-laki ? Mereka menjawab : Benar. Maka itulah kekurangan akalnya. Dan bukankah kalau wanita itu haid dia tidak shalat dan tidak puasa ? Mereka menjawab : Benar. Maka itulah kekurangan agamanya.
HR Bukhari, Baihaqi, Ibnu Khuzaimah dan al Baghawi.

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ الْفَقِيهُ وَأَبُو الْفَضْلِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْمُزَكِّى وَاللَّفْظُ لأَبِى الْفَضْلِ قَالاَ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ عَاصِمٍ الأَحْوَلِ عَنْ مُعَاذَةَ الْعَدَوِيَّةِ : أَنَّ امْرَأَةً سَأَلَتْ عَائِشَةَ : مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِى الصَّلاَةَ؟ فَقَالَتْ لَهَا : أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟ فَقَالَتْ : لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ. فَقَالَتْ : كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فُنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ ، وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.

Dari Mu’azah al ‘Adawiyah : Bahwa seorang wanita bertanya kepada Aisyah, bagaimana keadaan wanita haid yang meng qadha puasa dan tidak meng qadha shalat ? Aisyah bertanya : Apakah engkau orang Haruriyah ? Wanita itu menjawab : Saya bukan Haruriyah, tetapi saya hanya ingin bertanya. Aisyah menjawab : Waktu kami kedatangan haid dimasa Rasulullah saw, maka kami diperintahkan mengqadha puasa dan tidak diperintah meng qadha shalat.
HR Muslim, Abu Daud, Baihaqi, Abi Iwanah, Abdur Razak dan Ishak bin Rahawaihi

9. Bila kamu sedang menderita sakit atau bepergian, maka bolehlah kamu meninggalkan puasa kemudian menggantinya pada hari yang lain, dengan berturut turut atau berpisah.

    Berdasarkan surat al Baqarah 184 :
 ……..فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ……..
……Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain …


حَدَّثَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ عَبْدُ الْبَاقِى بْنُ قَانِعٍ الْقَاضِى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَنْصُورٍ الْفَقِيهُ أَبُو إِسْمَاعِيلَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ قَالاَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ فِى قَضَاءِ رَمَضَانَ « إِنْ شَاءَ فَرَّقَ وَإِنْ شَاءَ تَابَعَ ». لَمْ يُسْنِدْهُ غَيْرُ سُفْيَانَ بْنِ بِشْرٍ.

Dari Ibnu Umar bahwa nabi saw mengatakan tentang mengqadha puasa Ramadhan. Jika dia mau boleh terpisah-pisah dan boleh juga ber turut-turut. HR Daruqutni

10. Dan bila berpuasa itu terasa terlalu berat bagimu karena tua mu
Berdasarkan surat al Baqarah 184 :

  …….وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ………

 ……Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin……

11. Atau sakit lama yang tidak dapat diharapkan sembuhnya, maka boleh
berbuka, tetapi ber fidyah dengan memberi makan kepada fakir miskin buat setiap harinya satu mud * ( sekitar 0,5 liter)

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَالَ : { رُخِّصَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ أَنْ يُفْطِرَ وَيُطْعِمَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا ، وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ } رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَاهُ

Dari Ibnu Abbas ra : Diberi keringanan bagi orang yang telah tua renta tidak berpuasa, dengan ganti memberi makan kepada seorang miskin tiap harinya, serta tidak  usah diqadha.
HR Daruqutni, al Hakim dan disahihkannya serta oleh Baihaqi.

حَدَّثَنِى إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ عَطَاءٍ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقْرَأُ ( وَعَلَى الَّذِينَ يُطَوَّقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ) . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ ، هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا ، فَلْيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

Dari Atha’ dia mendengar Ibnu Abbas membaca ayat “wa alal lazina yuthiqunahu fidyatun tha’amu miskin”. Maka Ibnu Abbas berkata : Ayat ini tidak mansukh, dia adalah untuk orang tua laki-laki dan wanita yang renta yang tak kuat berpuasa, dan masing-masing memberi makan kepada seorang miskin untuk ganti tiap-tiap harinya.
HR Bukhari, Nasai, al Hakim, Daruqutni.

12. Begitu juga karena mengandung atau menyusui.

أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ الْفَضْلِ الْقَطَّانُ بِبَغْدَادَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ سُفْيَانَ حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَوَادَةَ الْقُشَيْرِىُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَجُلٍ مِنْهُمْ : أَنَّهُ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَالنَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يَتَغَدَّى قَالَ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- :« هَلُمَّ لِلْغَدَاءِ ». فَقُلْتُ : يَا نَبِىَّ اللَّهِ إِنِّى صَائِمٌ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- :« إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصَّلاَةِ ، وَعَنِ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ ».
Dari Anas bin Malik: bahwasanya dia mendatangi Nabi saw dan nabi sedang makan siang. Maka nabi berkata : mari makan. Saya menjawab : Saya puasa. Nabi berkata : Sesungguhnya Allah swt membebaskan puasa dan separo shalat bagi orang musafir, serta membebaskan puasa dari orang hamil dan menyusui. HR Ahmad, Nasai, Ibnu Majah, Baihaqi, Ibnu Abi Ashim, Thabrani, Ibnu Khuzaimah, Abi Nu’aim, at Thahawi, al Baghawi, Malik.
ولقول ابن عباس لأم ولد له حبلى أنت بمنزلة الذي لا يطيق فعليك الفداء ولا قضاء رواه البزار وصححه الدارقطني
Dan perkataan Ibnu Abbas kepada jariahnya yang hamil : Engkau termasuk orang yang berat berpuasa, maka engkau hanya wajib berfidyah dan tidak usah mengganti puasaHR al Bazar dan disahihkan oleh daruqutni. Juga diriwayatkan oleh Abdur Razak dan Ibnu Abi Hatim
وفي أخرى له : أُثبِتَتْ لِلْحُبَلى والمُرضِعِ ، يعني الفِديَةَ والإفطارَ.
Dan pada riwayat lain : Ditetapkan bagi orang hamil dan menyusui membayar fidyah dan dia tidak berpuasa.     HR Abu Daud.

YANG MEMBATALKAN PUASA

13. Bila telah nampak fajar yang kedua (fajar shadiq) kepadamu, maka janganlah makan dan minum.

       Berdasarkan surat al Baqarah 187 :

 ……وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ  ……(187)

Artinya :   …… dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar……

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ وَيُوسُفُ بْنُ عِيسَى قَالاَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ أَبِى هِلاَلٍ عَنْ سَوَادَةَ بْنِ حَنْظَلَةَ هُوَ الْقُشَيْرِىُّ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ يَمْنَعَنَّكُمْ مِنْ سُحُورِكُمْ أَذَانُ بِلاَلٍ وَلاَ الْفَجْرُ الْمُسْتَطِيلُ وَلَكِنِ الْفَجْرُ الْمُسْتَطِيرُ فِى الأُفُقِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ.

Dari Samurah bin Jundub berkata Rasulullah saw : Janganlah menghalangi kamu dari makan sahur azan Bilal dan fajar yang tegak (fajar kazib), tetapi yang menghalangi ialah fajar yang membentang (fajar shadiq).       HR Muslim, Ahmad, Tirmizi, As Sayuthi dan al Baghawi

14. Dan jangan pula mengumpuli istrimu. Bila kamu mengumpulinya(bersetubuh), maka berkifaratlah dengan memerdekakanbudak sahaya. Bila tidak dapat, maka berpuasalah dua bulan ber turut-turut. Bila tidak dapat juga, maka beri makanlah enam puluh (60) orang miskin, tiap-tiap orang satu mud, dan berpuasalah sehari untuk ganti puasa yang batal.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ : { جَاءَ رَجُلٌ إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : هَلَكْت يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَالَ : وَمَا أَهْلَكَك ؟ قَالَ : وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ .  فَقَالَ : هَلْ تَجِدُ مَا تُعْتِقُ رَقَبَةً ؟ قَالَ : لَا .
قَالَ : فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ ؟ قَالَ : لَا .  قَالَ : فَهَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ؟ قَالَ : لَا ، ثُمَّ جَلَسَ ، فَأُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهِ تَمْرٌ .  فَقَالَ : تَصَدَّقْ بِهَذَا !  فَقَالَ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنَّا ؟ فَمَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ إلَيْهِ مِنَّا ، فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ .  ثُمَّ قَالَ : اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ } رَوَاهُ السَّبْعَةُ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

Dari Abu Hurairah ra dia berkata : Seorang laki-laki datang kepada nabi saw dan berkata : Wahai Rasulullah, celaka aku. Rasul berkata : Apa yang mencelakakanmu ? Jawab laki-laki : Saya bersetubuh dengan isteri saya dalam bulan Ramadhan. Rasul berkata : Apakah engkau bisa memerdekaan budak ? Jawab laki-laki : Tidak. Rasul berkata : Apakah engkau sanggup puasa 2 (dua)  bulan berturut-turut ?  Jawab laki-laki : Tidak. Rasul berkata : Apakah engkau bisa memberi makan 60 orang miskin ? Jawab laki-laki : Tidak. Kemudian laki-laki itu duduk. Maka kebetulan nabi diberikan orang sekeranjang kurma. Nabi berkata : Bersedekahlah dengan ini (kurma). Laki-laki itu berkata : Apakah kepada orang yang paling miskin ? Maka diantara dua bukit hitam ini tidak ada keluarga yang lebih membutuhkan dari kami. Maka nabi saw tertawa sehingga nampak giginya, kemudian berkata : Pergilah, dan beri makanlah keluargamu. HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasai, Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi, Abdur Razak, al Baghawi, al Humaidi.

حَدَّثَنَا مُوسَى بن هَارُونَ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بن رَاهَوَيْهِ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بن مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، عَنْ يَحْيَى بن أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ سَلْمَانَ بن صَخْرٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَاهُ مِكْتَلا فِيهِ خَمْسَةَ عَشَرَ صَاعًا، فَقَالَ:"أَطْعِمْهُ سِتِّينَ مِسْكِينًا، لِكُلِّ مِسْكِينٍ مُدٌّ".

Dari Salman bin Shakhar bahwa Rasulullah saw memberikan kepadanya satu keranjang didalam nya 15 sha’, dan rasul berkata : Beri makanlah untuk 60 orang miskin, setiap orang miskin satu mud. HR Thabrani

ORANG YANG BERKEWAJIBAN QADHA

15. Bila kamu melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti yang tersebut diatas, maka gantilah pada hari lainnya

      Mengambil arti dari hadits :

فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَة قَالَ : قَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِم فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمه , فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّه وَسَقَاهُ " وَعِنْد الْبُخَارِيّ " فَأَكَلَ وَشَرِبَ " وَرَوَى الدَّارَقُطْنِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَة عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِذَا أَكَلَ الصَّائِم نَاسِيًا , أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا , فَإِنَّمَا هُوَ رِزْق اللَّه سَاقَهُ اللَّه إِلَيْهِ , وَلَا قَضَاء عَلَيْهِ " , هَذَا إِسْنَاد صَحِيح وَكُلّهمْ ثِقَات

Dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah ra berkata rasulullah saw : Siapa yang lupa dan dia dalam keadaan puasa, maka dia makan atau minum, maka hendaklah dia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah memberinya makan atau minum. Dan dalam riwayat Daruqutni : Apabila orang yang puasa itu makan karena lupa atau minum karena lupa, maka itu adalah rezeki dari Allah dan diberi minum oleh Allah, dan dia tidak perlu mengqadha atasnya.
Sanadnya shahih dan semuanya bisa dipercaya.

Artinya kalau makan dan minum bukan karena lupa, maka wajib qadha.

16. Kecuali bila kamu kelupaan

Berdasarkan hadits yang diatas tadi :

وَرَوَى الدَّارَقُطْنِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَة عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِذَا أَكَلَ الصَّائِم نَاسِيًا , أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا , فَإِنَّمَا هُوَ رِزْق اللَّه سَاقَهُ اللَّه إِلَيْهِ , وَلَا قَضَاء عَلَيْهِ " , هَذَا إِسْنَاد صَحِيح وَكُلّهمْ ثِقَات

Dan dalam riwayat Daruqutni : Apabila orang yang puasa itu makan karena lupa atau minum karena lupa, maka itu adalah rezeki dari Allah dan diberi minum oleh Allah, dan dia tidak perlu mengqadha atasnya.
Sanadnya shahih dan semuanya bisa dipercaya.

17. Apabila ada diantara orang yang sedang dalam perwalianmu mati sedang ia berhutang puasa, maka puasalah untuknya.

وَقَدْ أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ ، فِي آخَرِينَ قَالُوا : حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ الصَّاغَانِيُّ ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ الرَّبِيعِ بْنِ طَارِقٍ ، أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي جَعْفَرٍ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ ، عَنْ عَائِشَةَ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ ص  م   قَالَ : مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

Dari Aisyah bahwa Rasulullah saw berkata : Siapa yang meninggal, padahal dia berhutang puasa, maka walinya berpuasa untuknya. HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasai, Daruqutni, Baihaqi, Abi Iwanah, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah.

وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ وَابْنُ أَبِى خَلَفٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ جَمِيعًا عَنْ زَكَرِيَّاءَ بْنِ عَدِىٍّ - قَالَ عَبْدٌ حَدَّثَنِى زَكَرِيَّاءُ بْنُ عَدِىٍّ - أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو عَنْ زَيْدِ بْنِ أَبِى أُنَيْسَةَ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ عُتَيْبَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - قَالَ جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ نَذْرٍ أَفَأَصُومُ عَنْهَا قَالَ « أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ فَقَضَيْتِيهِ أَكَانَ يُؤَدِّى ذَلِكِ عَنْهَا ». قَالَتْ نَعَمْ. قَالَ « فَصُومِى عَنْ أُمِّكِ ».

Dari Ibnu Abbas : Telah datang seorang wanita kepada rasulullah saw dan berkata : Ya Rasulullah sungguh ibuku telah meninggal dunia dan dia berhutang puasa nazar. Apakah saya berpuasa menggantikannya? Jawab rasul : bagaimana pendapatmu bila ibumu berhutang, apakah kamu membayarnya ? Apakah itu dapat melunasi hutangnya ? Jawab wanita : ya. Nabi berkata : Puasalah untuk ibumu. HR  Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasai, Baihaqi, Thabrani, Abi Iwanah, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Asakir, Abdur Razak, Dauqutni, al Baghawi.

PANTANGAN ORANG YANG PUASA

18. Tinggalkan perkataan dan perbuatan dusta, pandir dan jahil.

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِى إِيَاسٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِى ذِئْبٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْمَقْبُرِىُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Dari Abi Hurairah ra berkata Rasulullah saw : Siapa yang tidak suka menghentikan perkataan dan perbuatan dusta dan menjauhi perbuatan pandir , maka bagi Allah tiada gunanya ia meninggalkan makan dan minum. HR Bukhari, Ahmad, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, Baihaqi, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, as Sayuthi, al Baghawi.

19. Dan janganlah berkata kotor dan berbuat gaduh. Bila kamu diajak berbantah,  maka katakanlah : Saya sedang berpuasa !

وَحَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِى عَطَاءٌ عَنْ أَبِى صَالِحٍ الزَّيَّاتِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَسْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ. وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ وَإِذَا لَقِىَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ »

Dari Abu Hurairah berkata Rasulullah saw : Allah swt berfirman : Setiap amal anak Adam adalah  untuknya, kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa itu untukku dan aku yang akan membalasnya, dan puasa itu perisai, maka bila hari puasa seseorang dari padamu, maka janganlah berkata kotor pada hari itu dan jangan berkata gaduh. Dan bila ada yang mengajak berbantah atau bermusuhan hendaklah dia berkata :”Saya sedang berpuasa”. Dan demi yang jiwa Muhammad ditangannya (demi Allah), sungguh bau mulut orang yang puasa itu lebih wangi disisi Allah dihari kiamat dari wanginya kesturi. Bagi orang yang puasa itu 2(dua)  kegembiraan, yaitu ketika gembira ketika berbuka dan gembira bertemu dengan Tuhannya. HR Bukhari, Muslim dan lainnya.

20. Dan jangan pula keras-keras berkumur dan menghisap air kehidung.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بن مُحَمَّدِ بن سَعِيدِ بن أَبِي مَرْيَمَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن يُوسُفَ الْفِرْيَابِيُّ ح، وَحَدَّثَنَا عَلِيُّ بن عَبْدِ الْعَزِيزِ، حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، قَالا: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي هَاشِمٍ، عَنْ عَاصِمِ بن لَقِيطِ بن صَبِرَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ:"أَسْبِغِ الْوُضُوءَ، وَخَلِّلِ الأَصَابِعَ، وَإِذَا اسْتَنْشَقْتَ فَبَالِغْ إِلا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا"، وَلَفْظُهُمَا وَاحِدٌ.
Artinya : Dari Ashim bin Laqith bin Shabirah dari ayahnya dia berkata : Saya mendatangi Nabi saw, maka beliau berkata : Sempurnakanlah wudhuk, dan silang-silangilah jari-jari, dan bila engkau menghirup air, maka sempurnakanlah, kecuali jika engkau puasa.
HR Nasai, Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi, Abdur Razak, al Hakim dan Thabrani

Hadits itu menjelaskan bahwa dalam keadaan berpuasa,  janganlah berkumur-kumur dan mengirup air dengan berlebihan.


إذا توضأتَ فأبلغْ فى المضمضةِ والاستنشاقِ ما لم تكنْ صائما
(أبو بشر الدولابى فيما جمع من حديث الثورى عن عاصم بن لقيط عن أبيه)

Artinya : Apabila engkau berwudhuk, maka sempurnakanlah dalam berkumur dan menghisap air selama engkau tidak berpuasa. HR Ad Daulabi dan dishahihkan oleh ibnul Qathtan.

21. Dan janganlah mencium isterimu, bila kamu tidak kuat menahan nafsu

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ :  كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ وَيُبَاشِرُ  وَهُوَ صَائِمٌ وَلَكِنَّهُ أَمْلَكُكُمْ لِإِرْبِهِ
Dari Aisyah ra dia berkata : Rasulullah saw pernah mencium (saya) sedang beliau berpuasa dan bersentuhan sedang beliau berpuasa juga, tetapi beliau kuat menahan nafsunya. HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi, Abdur Razak, Thabrani, Abi Iwanah, Ibnu Hibban, Malik, Daruqutni, Ibnu Asakir.

22. Tidak mengapa kamu menggosok gigi.

عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - يَسْتَاكُ ، وَهُوَ صَائِمٌ مَا لاَ أُحْصِى أَوْ أَعُد

Dari Amir bin Rabi’ah dia berkata : Saya melihat nabi saw menggosok gigi yang tidak dapat kubilang atau kuhitung sedang beliau berpuasa. HR Bukhari, Ahmad, Abu Daud, Abdur Razak, Ibnu Abi Syaibah, at Thayalisi, al Humaidi, Abu Ya’la, Daruqutni, Baihaqi, al Bazar, Ibnu Khuzaimah.

23. Dan (boleh) mandi karena kepanasan


قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ سُمَىٍّ عَنْ أَبِى بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَامَ فِى سَفَرٍ عَامَ الفَتْحِ وَأَمَرَ أَصْحَابَهُ بِالإِفْطَارِ وَقَالَ « إِنَّكُمْ تَلْقَوْنَ عَدُوًّا لَكُمْ فَتَقَوَّوْا ». فَقِيلَ َيا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ النَّاسَ قَدْ صَامُوا لِصِيَامِكَ فَلَمَّا أَتَى الْكَدِيدَ أَفْطَرَ. قَالَ الَّذِى حَدَّثَنِى َلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُبُّ الْمَاءَ عَلَى رَأْسِهِ مِنَ الْحَرِّ وَهُوَ صَائِمٌ

Dari Abu Bakar bin Abdur Rahman bin Harits dari seorang sahabat Nabi saw bahwa Rasulullah saw berpuasa dalam safar (perjalanan) pada hari penaklukan kota Mekkah (fathu Makkah) dan menyuruh sahabatnya berbuka dan nabi berkata : Kamu akan menemui musuhmu, maka kamu harus kuat. Maka ada yang berkata : Ya Rasulullah sesungguhnya manusia tetap berpuasa karena engkau berpuasa, maka tatkala sampai di kadid dia berbuka. Berkata yang berkata kepadaku tadi : Saya melihat Rasulullah saw menuangkan air diatas kepalanya karena panas, pada hal dia sedang puasa.         HR Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Abdur Razak, Thabrani, Malik

24. Bila kamu akan berpuasa, maka sahurlah

أنس بن مالك - رضي الله عنه - : أن النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- قال: «تَسَحَّرُوا، فإِنَّ فِي السَّحُورِ بركة ». أخرجه البخاري، ومسلم ، والترمذي ، والنسائي.

Dari Anas bin Malik ra bahwa nabi saw berkata : Makan sahurlah kamu, karena pada makan sahur itu ada berkahnya.    HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Turmizi, Nasai, Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi, Abdur Razak, Thabrani, Abi Iwanah, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, al Qudha’i, ad Darimi, al Bazar.


25. Dan akhirkanlah waktunya (waktu sahur).

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ هِشَامٍ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ ح وَيَزِيدُ قَالَ أَنْبَأَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ ح وَوَكِيعٌ حَدَّثَنَا الدَّسْتَوَائِيُّ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَرَجْنَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَقُلْتُ كَمْ بَيْنَهُمَا قَالَ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً

Dari Zaid bin Tsabit bia berkata : Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah saw dan kemudian kami keluar menuju mesjid dan shalat ditegakkan. Saya bertanya berapa jarak diantara keduanya ? Dia menjawab : Se ukuran seseorang membaca 50 ayat al Qur an.
HR Bukhari, Ahmad, Nasai, Baihaqi, Abi Iwanah, Abu Ya’la, Ibnu Hibban.

26. Bila terbenam matahari, maka cepat-cepatlah berbuka.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بن عَبْدِ الْعَزِيزِ، حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بن سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:"لا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ" .
Dari Sahal bin Saad as Sa’idi bahwa Rasulullah saw berkata : Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.
HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah, al Baghawi, ad Darimi, Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi, Abdur Razaq, Thabrani, Abi Iwanah, Abi Ya’la, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Syafi’I, as Sayuthi, Malik.

27. Dengan makan kurma, dan bila tidak ada minumlah air

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَاصِمٍ الأَحْوَلِ عَنْ حَفْصَةَ عَنِ الرَّبَابِ أُمِّ الرَّائِحِ بِنْتِ صُلَيْعٍ عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِّىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ فَإِن لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ فَإِنَّهُ طَهُورٌ »

Dari Salman bin Amir ad Dhabbi berkata Rasulullah saw : Apabila salah seorang kamu mau berbuka, maka berbukalah dengan kurma, dan jika tidak ada berbukalah dengan air karena air itu suci.      HR Ahmad, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah, al Humaidi, Ibnu Hibban, ad Darimi, al Baghawi, Thabrani, Baihaqi, Ibnu Khuzaimah, as Sayuthi.

28. Dan berdo’alah sesudah itu

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى أَبُو مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ الْحَسَنِ أَخْبَرَنِى الْحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ - يَعْنِى ابْنَ سَالِمٍ - الْمُقَفَّعُ - قَالَ رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقْبِضُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَيَقْطَعُ مَا زَادَ عَلَى الْكَفِّ وَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».

Dari Marwan bin Salim al Muqaffa’ dia berkata : Saya melihat Ibnu Umar memegang jenggotnya dan memotong yang berlebih dari pegangannya, dan berkata : Rasulullah saw apabila berbuka dia berdo’a : Telah hilang dahaga dan telah basah kerongkongan dan insya Allah akan didapatkan pahala dari Allah swt.       HR Abu Daud, Nasai, Baihaqi, al Hakim, Daruqutni, al Baghawi.

AMAL-AMAL YANG UTAMA

29. Bila sudah masuk bulan Ramadhan, maka perbanyaklah sedekah danmenderas al Qur an

أَخْبَرَنَا أَبُو عُثْمَانَ الضَّبِّيُّ ، أَنْبَأَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ الْجَرَّاحِيُّ ، أَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ الْمَحْبُوبِيُّ ، أَخْبَرَنَا أَبُو عِيسَى ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ ، أَخْبَرَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ ، أَخْبَرَنَا صَدَقَةُ بْنُ مُوسَى ، عَنْ ثَابِتٍ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ ؟ قَالَ : شَعْبانُ لِتَعْظيمِ رَمَضَانَ ، قِيلَ : فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ ؟ قَالَ : صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ
Dari Anas dia berkata : Ditanya orang nabi saw : Puasa apa yang paling afdhal sesudah Ramadhan? Nabi berkata : Puasa Sya’ban untuk membesarkan Ramadhan. Ditanya lagi : Sedekah apa yang paling afdhal ? Dia menjawab : Sedekah di bulan Ramadhan.
HR Tirmizi, Baihaqi, As Sayuthi dan al Baghawi


حَدَّثَنَا عَبْدَانُ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنِ الزُّهْرِىِّ ح وَحَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ وَمَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِىِّ نَحْوَهُ قَالَ أَخْبَرَنِى عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Dari Ibnu Abbas dia berkata : Rasulullah saw adalah orang yang paling pemurah, dan dia paling pemurah di bulan Ramadhan, yaitu pada waktu dia berjumpa dengan Jibril. Jibril itu bertemu dengan nabi setiap Ramadhan maka dia berdarus al Qur an dengan nabi. Maka pada waktu itu rasulullah saw lebih pemurah dibandingkan angin yang berhembus. HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasai, Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, al Baghawi, Ibnu Asakir, at Thabari.

30. Dan shalat Tarawehlah (shalat malam) sebelas rak’at.

وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ : عَلِىُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بِشْرَانَ الْعَدْلُ بِبَغْدَادَ حَدَّثَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ : عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَلِىِّ بْنِ مُكْرَمٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ : عُبَيْدُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِى عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَخْبَرَتْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ لَيْلَةً مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ يُصَلِّى فِى الْمَسْجِدِ ، فَصَلَّى رِجَالٌ يُصَلُّونَ بِصَلاَتِهِ ، فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا بِذَلِكَ ، فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ ، فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اللَّيْلَةَ الثَّانِيَةَ ، فَصَلَّى فَصَلَّوْا مَعَهُ ، فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا بِذَلِكَ ، فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ ، فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَصَلَّوْا بِصَلاَتِهِ ، فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَطَفِقَ رِجَالٌ مِنْهُمْ يَقُولُونَ الصَّلاَةُ ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى خَرَجَ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ ، فَلَمَّا قَضَى صَلاَةَ الْفَجْرِ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَتَشَهَّدَ ، ثُمَّ قَالَ :« أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَىَّ شَأْنُكُمُ اللَّيْلَةَ ، وَلَكِنِّى خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا ». وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُرَغِّبُهُمْ فِى قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ بِعَزِيمَةِ أَمْرٍ فِيهِ فَيَقُولُ :« مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ». فَتُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَالأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ ، ثُمَّ كَانَ الأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ خِلاَفَةَ أَبِى بَكْرٍ وَصَدْرًا مِنْ خِلاَفَةِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمَا.
Dari Urwah Bin Zuber bahwa Aisyah isteri nabi saw mengabarkan kepadanya nya bahwa Rasulullah saw keluar pada suatu malam shalat di mesjid, maka beberapa laki-laki ikut shalat bersamanya. Pagi besoknya manusia membicarakan hal itu, maka mereka berkumpul lebih banyak. Maka Rasulullah saw keluar pada malam kedua, beliau shalat dan manusia shalat bersamanya. Pagi besoknya manusia membicarakan hal itu, maka banyak penghuni mesjid pada malam ketiga. Maka Rasulullah saw keluar , beliau shalat dan manusia shalat bersamanya. Tatkala malam ke empat penuh mesjid dengan penghuninya, Rasulullah tidak keluar . Maka beberapa orang bertepuk dan mengatakan “shalat”. Dan rasul tidak keluar sampai shalat shalat shubuh. Tatkala selesai shalat fajar nabi menghadap kepada manusia dan beliau bertasyahhud, kemudian berkata : Amma bakdu keadaan kamu tadi malam tidak tersembunyi dari saya (saya mengetahuinya), tetapi saya takut nanti shalat tarawih itu akan difardhukan kepada kamu, dan kamu tidak sanggup. Adalah rasulullah saw memotivasi mereka dalam melakukan qiyamu Ramadhan tanpa menyuruh mereka dengan keras. Dan nabi bersabda : Siapa yang menegakkan Ramadhan (melakukan qiyamu ramadhan) dengan iman dan ikhlas diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Maka kemudian rasul wafat dan keadaannya tetap seperti itu. Kemudian dibiasakan berjamaah dimasa pemerintahan khalifah Abi Bakar dan di awal pemerintahan  khalifah Umar bin Khattab.
HR Baihaqi, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah.

Hadits diatas tidak dalam HPT (dimuat untuk sekedar menambah pemahaman.)

وَحَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِىِّ عَنْ أَبِى سَلَمَةَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُرَغِّبُ فِى قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيهِ بِعَزِيمَةٍ فَيَقُولُ « مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ». فَتُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَالأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ ثُمَّ كَانَ الأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ فِى خِلاَفَةِ أَبِى بَكْرٍ وَصَدْرًا مِنْ خِلاَفَةِ عُمَرَ عَلَى ذَلِكَ.

Dari Abu Hurairah dia berkata : Adalah rasulullah saw memotivasi mereka dalam melakukan qiyamu Ramadhan tanpa menyuruh mereka dengan keras. Dan nabi bersabda : Siapa yang menegakkan Ramadhan (melakukan qiyamu ramadhan) dengan iman dan ikhlas diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Maka kemudian rasul wafat dan keadaannya tetap seperti itu. Kemudian dibiasakan berjamaah dimasa pemerintahan khalifah Abi Bakar dan di awal pemerintahan  khalifah Umar bin Khattab.        HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Daud, Turmizi, Nasai, Malik, Ibnu Asakir, Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, al Bghawi, Ibnu Hibban, Thabrani, Abi Iwanah, al Fakihi.

الاحتساب والحسبة : طَلَب وجْه اللّه وثوابه. بالأعمال الصالحة، وعند المكروهات هو البِدَارُ إلى طَلَب الأجْر وتحصيله بالتَّسْليم والصَّبر، أو باستعمال أنواع البِرّ والقِيام بها على الوجْه المرْسُوم فيها طَلَباً للثَّواب المرْجُوّ منها

Arti Ihtisab mencari wajah/keridhaan Allah dan mencari pahalanya dengan amal shaleh, dan menghadapi yang sulit (yang tak disenangi) dgn bersegera kepada mencari pahala, dan menghasilkan pahala dengan selamat dan sabar, atau mempergunakan ber macam-macam kebaikan dan melakukannya dengan wajah yang jernih karena mencari pahala dan mengharapkannya.

Dan hadits Aisyah (empat-empat rak’at)

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى سَعِيدٍ الْمَقْبُرِىِّ عَنْ أَبِى سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا فَقَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَىَّ تَنَامَانِ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِى ».

Dari Abi Salamah bin Abdur Rahman bahwa dia bertanya kepada Aisyah bagaimana tata cara shalat malam rasulullah di bulan Ramadhan ? Beliau menjawab : Rasulullah tidak pernah menambah shalatnya melebihi 11 (sebelas) rak’at, dia shalat empat rak’at maka jangan tanya bagaimana baik dan panjangnya, kemudia dia  shalat empat rak’at (lagi) maka jangan tanya bagaimana baik dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 3 rak’at . Maka Aisyah berkata : Saya bertanya ya rasulullah apakah engkau tidur sebelum witir ? Beliau menjawab : Hai Aisyah mata saya tidur, tapi hati saya tidak tidur.      HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Hibban, Malik, Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Abi Iwanah, at Thahawi, Abdur Razak

Hadits dari Ibnu Umar (dua-dua rak’at)

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بن مُحَمَّدٍ الْجُمَحِيُّ الْمِصِّيصِيُّ ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بن إِبْرَاهِيمَ الْحُنَيْنِيُّ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بن عُمَرَ الْعُمَرِيُّ ، عَنْ نَافِعٍ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَلاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى

Dari Ibnu Umar dia berkata : Rasulullah saw bersabda : Shalat malam dan shalat shalat siang itu dua-dua rak’at.        HR Ahmad, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi, Daruqutni, Abdur Razak, Thabrani, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, as Sayuthi, Malik, ad Darimi.





31. Dan ber I’tikaflah pada sepuluh hari yang akhir

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - قَالَتْ كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يَعْتَكِفُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ، فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً فَيُصَلِّى الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ ، فَاسْتَأْذَنَتْ حَفْصَةُ عَائِشَةَ أَنْ تَضْرِبَ خِبَاءً فَأَذِنَتْ لَهَا ، فَضَرَبَتْ خِبَاءً ، فَلَمَّا رَأَتْهُ زَيْنَبُ ابْنَةُ جَحْشٍ ضَرَبَتْ خِبَاءً آخَرَ ، فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - رَأَى الأَخْبِيَةَ فَقَالَ « مَا هَذَا » . فَأُخْبِرَ فَقَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « آلْبِرُّ تُرَوْنَ بِهِنَّ » . فَتَرَكَ الاِعْتِكَافَ ذَلِكَ الشَّهْرَ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ عَشْرًا مِنْ شَوَّال

Dari Aisyah dia berkata : Nabi saw ber I’tikaf pada 10 hari yang akhir dari bulan Ramadhan. Maka saya buatkan untuknya kemah, maka beliau shalat shalat shubuh dan masuk ke kemah itu. Maka Hafsah minta izin kepada Aisyah membuat kemah, maka di izinkannya, maka diapun membuat kemah. Maka ketika dilihat oleh Zainab binti Jahasy dia membuat kemah yang lain. Maka pada pagi itu nabi saw melihat beberapa kemah, dan berkata : Apa ini ? Maka dikabarkan orang kepada nabi, dan beliau berkata : Apakah kamu melihat kebaikan dengan mereka? Maka beliau meninggalkan iktikaf dibulan itu, kemudian ber iktikaf sepuluh hari di bulan Syawal.
HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, al Hakim, Abi Iwanah, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, at Thahawi, Baihaqi, Daruqutni, al Baghawi.