Populer

Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2016

DUDUK SEKURSI DENGAN AHLUL BID’AH, TURUT SERTA DALAM MEROBOHKAN ISLAM



Peringatan Rasulullah shallallahu’alahi wasallam, adalah peringatan yang amat dan sangat prihatin, bila umatnya terperosok kedalam bid’ah. Bukan main marahnya beliau memandang masa depan umat yang terhempas dan terhuyung diatas hamparan bid’ah yang tak terjangkau, melebar dan meluas, menelanjangi semua amalan amalan yang semestinya aroma sunah, menjadi aroma bid’ah. Itulah sebabnya nabi, sahabat, tabiin dan tabiit tabiin tidak henti hentinya mencegak umat ini untuk tidak memadu kasih dengan bid’ah. Itu sebagai suatu dasar agar umatnya selamat dunia akhirat, tidak terhambat amalnya, karena ada percikan dan noda bid’ah.

أخرج الحافظ أبو نعيم ٍ في حلية الأولياء عن فضيل بن عياض قال: من أحب صاحب بدعة أحبط الله عمله وأخرج نور الإسلام من قلبه

Al Hafidz Abu Nu’im dalam kitab hilyat al auliya dari Fudhail bin iyyadh  berkata: “ Siapa yang mencintai bid’ah dan pelakunya, Allah akan menggugurkan amalan amalannya, dan menghilangkan cahaya Islam dari hatinya. 

Keterangan : Cahaya Islam akan redup karena banyaknya para pelaku bid’ah menampakkan amalan bid’ahnya. Contohnya bahwa cahaya Islam  redup, bisa diperhatikan zaman sekarang ini, ketika manusia manusia berlomba mencintai dan membangun ibadah diatas bid’ah. Tidak terdapat semangat Islam pada seseorang untuk mencintai berbagai sunah nabi, mereka seolah bermusuhan dengan sunah nabi, sehingga mereka harus membangun keyakinan beragama di atas alas Bid’ah.

أورد الإمام الذهبي في سير أعلام النبلاء عن الفضيل قال: من أحب صاحب بدعة أحبط الله عمله وأخرج نور الإسلام من قلبه، لا يرتفع لصاحب بدعة إلى الله عمل، نظر المؤمن إلى المؤمن يجلو القلب ونظر الرجل إلى صاحب بدعة يورث العمى، من جلس مع صاحب بدعة لم يعط الحكمة.

Imam ad-dhahabi menyebutkan didalam “ Siyar a’lam an-nubala’” dari fudhail bin Iyadh:” Orang orang yang menyukai/mencintai para pelaku bid’ah, kelak Allah akan menggugurkan amal amalnya, juga melenyapkan cahaya Islam dari hatinya. Amal amal para pelaku bid’ah tak akan diangkat oleh Allah ke sisinya. Penglihatan Mukmin kepada mukmi, mendinginkan hati. Sedangkan pandangan seseorang kepada para pelaku bid’ah akan mewarisi kebutaan. Siapa yang duduk dengan ahlul bid’ah tidak akan memberikan ilmu.


Keterangan: Amal amal pelaku bid’ah bagaikan buih dilautan yang diombang ambingkan ombak , tak tentu arahnya. Karena tidak terdapat tujuan kemana amal amal mereka itu kelak akan ditentukan. Isyarat dari Allah dan Rasulnya, bid’ah itu adalah musuh agama, tidak ada kebaikan baginya. Sebab bagaimanapun bid’ah adalah lawan kata sunah, lalu bagaimana lawan kata sunah , bisa menjadi bid’ah yang hasanah.?  Nyata sekali kalau pandangan orang yang menyatakan adanya bid’ah hasanah itu sangat keterlaluan, seolah dalam agama perlu diciptakan bid’ah. Karena sebab bid’ahlah pandangan Ulama ahlussunah menyatakan kekesalannya pada para pelaku bid’ah yang merusak agama . Hanya saja mereka tidak menyadari, kalau perbuatan bid’ah mereka itu diluar kendali agama, tak ada ajaran agama yang menyruhnya, tak ada perintahnya dan tak ada kehalalannya untuk mengadakan perbuatan bid’ah tersebut.

عن هشام بن حسان عن الحسن قال صاحب بدعة ولا يقبل الله له صلاة ولا صياما ولا حجا ولا عمرة ولا جهادا ولا صرفا ولا عدلا واللفظ لحديث جعفر

Dari Hisyam bin Hassan dari al Hasan berkata: Allah tidak akan menerima, shalatnya, puasanya, hajinya, umrahnya jihadnya, cintanya, pembelaannya ahlul bid’ah. Lafadz hadist dari ja’far.


Ini ancaman talak bagi pelaku bid’ah. Ibadah mereka akan sia sia belaka di mata Allah, tak akan ada gunanya, sekalipun mereka bertujuan memakmurkan Islam, tetapi selama bumbunya adalah bid’ah , semuanya akan sia sia belaka. Karena islam adalam agama yang punya aturan tersendiri. Bila aturan aturan islam di langgar dan menebarkan bid’ah bid’ah, maka sirnalah harapan untuk diterimanya amalan oleh Allah. [ Sudah semestinya, apapun jenis bid’ahnya [ mau hasana atau tidak ] , alangkan beruntung jika bisa menghindar darinya, karena  produk pemikiran pembagian bid’ah sebagaimana berkembang pesat dalam dunia Islam, hanya qaul ulama yang belum tentu mereka yang mengikutinya juga paham masud imamnya tersebut.

الفضيل بن عياض يقول لا يرفع لصاحب بدعة إلى الله عمل

Fudhual bin iyyad: “Amal amal para pelaku bid’ah tak akan diangkat kepada Allah


  إبراهيم بن ميسرة قال ومن وقر صاحب بدعة فقد أعان على هدم الإسلام

Ibrahim bin Masirah berkata: Orang orang yang tunduk pada ahlul bid’ah, dia turut serta dalam merobohkan Islam  [Lebih baik tidak beranggapan adanya bid’ah hasanah, bila tujuan jelas Cuma mengorbitkan amalan amalan menyesatkan umat dan menggiring umat menjauhi al-Quran...bisa dibuktikan didunia sekarang, orang yang paling rajin memamurkan bid’ah, sudah pasti sibuk meninggalkan Quran, toh kalau juga membacanya sebatas yang ada kaitannya dengan menyemarakkan bid’ah .

عبد الله بن عمر السرخسي عالم الخزر قال أكلت عند صاحب بدعة أكلة فبلغ ذلك ابن المبارك فقال لا كلمته ثلاثين يوما

Abdullah bin Umar assarhasy berkata: “ Aku makan dengan ahlul bid’ah dengan suatu makanan , Ibnul Mubarak datang lalu ia berkata : “ Ia tidak bicara dengan aku selama 30 hari “ ( gara gara aku makan bareng ahlul bid’ah 

عن الحسن البصري قال ثلاثة ليست لهم حرمة في الغيبة أحدهم صاحب بدعة الغالي ببدعته

Dari hasan al-Bishri :3 kelompok orang yang tidak haram ghiabah padanya, diantaranya membicarakan ahlul bid’ah yang keterlaluan melakukan bid’ah. Halal dibicarakan

عن الحسن قال ليس لأهل البدع غيبة

Dari al hasan : Tidak termasuk ghaibah, bila membicarakan ahlul bid’ah. (halal mereka diicarakan, bahkan dilaknat )...

Oleh karenanya tidak perlu kita merasa bersalah bila kita harus ngoceh menjelek jelekkan mereka, karena itu barang halal untuk dibicarakan. Sebab merekalah Islam ini menjadi tidak tentu arahnya. Kacau balau, tidak dikenal mana yang sunah dan mana yang bid’ah, karena pelaku bid’ahlah yang merusak kondisi Islam menjadi sulit ditempatkan pada porosnya yang benar. Mengutuk dan melaknat orang yang berbuat bid’ah itu juga merupakan perintah agama. Karena mereka para pelaku bid’ah adalah musuh Islam bagaikan menggunting dalam lipatan, menghancurkan Islam dari dalam

Melihat keterangan tersebut bisa disimpulkan,
Dilarang satu majelis dengan ahlul bid’ah
Dilarang makan bareng sama ahlul bid’ah
Halal hukum berghibah tentang ahlul bid’ah dan pelakunya
Tidak bicara dengan ahlul bid’ah, karena mereka musuh Allah dan rasulnya.


Para Pemuja Bid’ah sudah pasti:

  •   Lebih mengikuti dan didominasi hawa nafsu
  • Lebih tunduk pada kemauan yang bertolak belakang dengan agama
  • Memilih sahabat sahabat yang tidak mengganggu bid’ah
  • Sudah pasti merendahkan ulama ulama pembela sunah
  • Lebih memilih bahasa gaul dengan sesama bid’ahnya [ misalnya syiah ]
  • Cendrung reaktif bila tersinggung bid’ahnya
  • Jiwanya meradang kalau ada kelompok yang mengganggunya
  • Lebih suka bersahabat dengan non Muslim dari pada yang melawan arus bid’ahnyaMenggagungkan ulamanya yang menjadi sandaran bid’ahnya, dari pada mengakui ulama yang tidak mendukung bid’ahnya, contohnya permusuhan mereka terhadap Ibnu Taimiyah , Asyatibi , Ibnu Katsir, Ibnu Qayyim , Muhammad bin Abdul wahab dan para pendukungnya, itu lebih utama dari pada orang kafir............
  • Pengkhinaan kepada Nashiruddin Albanny misalnya, mereka suplay dengan bahasa bahasa yang kotor dan tidak beradab, dengan menyebut “Ngalbany” , Shaleh Utsaimin misalnya, mereka panggil dengan Ngutsaimin, Bin Baz misalnya disebut kibas, macam macam laqob panggilan diberikan kepada ulama yang tidak sejalan, dan sangat tidak beradab.
  •  Sedangkan pada kelompoknya sendiri walaupun baru bertitel ulama kampung yang cerdas memutat biji tasbih saja, Ya Allah luar biasa adabnya.
  • Ahlul bid’ah itu memaksa dalil apapun untuk menghalalkan segala cara dalam amalan bid’ahnya 
  •   Isyarat isyarat yang tidak jelas tentang adanya Bid’ah hasanah biasa dipaksa menjadi dasar utama menghiasi Islam dengan berbagai ritualitas bid’ah 
  • Ahlul bid'ah biasanya mudah marah kalau disebut ahlul bid'ah, itu pertanda bahwa ajaran mereka tidak benar


Itu diantara keberadaan ahlul bid’ah, memilih hidup bersusah payah dengan merangkai dan merumuskan pengabdian Allah dengan manhaj bid’ah yang mereka buat. Artinya di dunia ini ada rivalitas mendasar tidak akan pernah bertemu sumbernya : “Manhaj Ahlussunah Wal Jamaah  Vs Manhaj Ahlul Bid’ah Wal Furqa” dg Dalih “ Wahdatul Umah” mereka menebarkan bid’ah di seluruh penjuru dunia. 

Rabu, 01 Juni 2016

TIDAK ADA HADIAH PAHALA DALAM ISLAM, APALAGI HADIAH DOSA

Tertolaknya Hadiah Pahala

Oleh H. Zulkarnain El-Madury

Masalah hadiah pahala kian marak di ditengah umat Islam, mereka tanpa beban melaksanakan amalan yang tidak ada contohnya dari generasi pertama, seolah tanpanya kurang lengkap Islam, padahal hanya semata rekayasa manusia yang menciptakan agama baru / atau keyakinan baru yang bersumber dari agama dan keyakinan lain. Hadiah pahala menjadi pilihan, sehingga banyak tokoh umat menggunakan media transfer pahala ini menjadi pilihan utama dalam proyek pengentasan kebangkrutan pahala. Menarik memang, apalagi bila disertai manakan yang mengundang perut menyerbu datangnya kematian tersebut. Namun apakah “hadiah pahala” ini legal dalam agama, apakah benar perselisihan furuk semata, atau sekedar perkumpulan biasa atau justru proyek dosa ?

DALIL DALIL QURAN TIDAK ADANYA HADIAH PAHALA

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. ﴾ Al Baqarah:286 ﴿
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, [Fushilat 46 ]

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. [Al’ankabut 6]
مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, [A Isro’ 15]

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى إِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَمَنْ تَزَكَّى فَإِنَّمَا يَتَزَكَّى لِنَفْسِهِ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang dibebani berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu tidak akan dipikulkan sedikit pun, meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada (azab) Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nyadan mereka yang mendirikan shalat. Dan barang siapa yang menyucikan dirinya sesungguhnya dia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. dan kepada Allah-lah tempat kembali [ Al fathir 18 ]

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa'at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong. [ Al Baqarah 123]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. [Luqman 33]
كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan [Al Jatsiyah 28]
فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. [Yaasiin 54]
أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى  وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya [An-Najm 38-39]

PENDAPAT ULAMA TAFSIR  DALAM MENAFSIRKAN AYAT MENOLAK HADIAH PAHALA

أنه لا يُجَازي عامل إلا بعمله، خيرا كان ذلك أو شرّا

Sesungguhnya siapa yang beramal tidak akan dibalas melainkan dengan amalnya sendiri, baik atau jelek [Ath- Thobary 27 : 39 ]

لا يؤاخذ بعقوبة ذنب غير عامله، ولا يثاب على صالح عمله عامل غيره

Tidak akan disiksa dengan siksaan orang berdosa melainkan mereka yang berbuat dosa, tidak akan mendapat balasan pahala , bagi mereka yang tidak beramal baik [Ath. Thobary 27:40]

أن حسنة الغير لا تجدي نفعاً ومن لم يعمل صالحاً لا ينال خيراً فيكمل بها ويظهر أن المسيء لا يجد بسبب حسنة الغير ثواباً ولا يتحمل عنه أحد عقاباً

Bahwasanya kebaikan orang lain tidak bisa memberi mamfaat guna, siapa yang tidak mengerjakan amalan sholeh , dia tidak akan mendapatkan kebaikan , benar dan nyatalah ayat ini yang menjelaskan , bahwa orang yang berdosa tidak akan mendapatkan pahala oleh sebab amalan orang lain , dan tidak bisa seorangpun menanggung dosa orang lain [Fathur Razi 7:738]

كما لا يحمل عليه وزر غيره، كذلك لا يحصل من الأجر إلا ما كسب هو لنفسه
ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى

Sebagaimana dosa yang tidak bisa dibebankan kepada yang lainnya, yang demikian pahala tidak akan didapat mereka, melainkan hasil panen usahanya sendiri. Pada ayat yang mulya ini juga terdapat Istimbat Imam Syafii rahimahullah dan pengikutnya, bahwa bacaan Quran tidaklah sampai , bila pahalanya diahadiahkan kepada yang mati. [Ibnu Katsir 198]

"وَأَنْ" أَيْ أَنَّهُ "لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إلَّا مَا سَعَى" مِنْ خَيْر فَلَيْسَ لَهُ مِنْ سَعْي غَيْره الْخَيْر شَيْء

Bahwasanya, tidaklah bagi manusia mendapatkan pahala melainkan apa yang ia kerjakan dari kebaikan . Tidaklah padanya dapat kebaikan dari sebab usaha orang lain “ [ Jalalain 3 :198]

ليس له إلاّ أجر سعيه ، وجزاء عمله ، ولا ينفع أحداً عمل أحد

Dia tidak akan mendapatkan pahala melainkan pahala dari usahanya sendiri, balasan amalnya , tidak bermanfaat amalan seseorang kepada orang lain [fathul Qadir 5 : 11]

أن النفوس إنما تجازى بأعمالها  إن خيرًا فخير، وإن شرًا فشر، وأنه لا يحمل من خطيئة أحد على أحد

Sesungguhnya tiap tiap jiwa dibalas menurut amalnya masing masing, jika baik dibalas dengan kebaikan, jika jelek dibalas dg kadar kejelekannya, dan seseorang tidak bisa membebankan dosanya atas orang lain [Ibnu Katsir 3 : 444]

PERKATAAN SAHABAT TENTANG TAK ADA HAADIAH PAHALA

ابن عباس بأنه قال (لا يصل أحد عن أحد ولا يصوم أحد عن أحد)

Dari Ibnu Abbas : Tidak boleh orang lain mengganti sholatnya orang lain , dan tidak boleh seseorang menggantikan puasanya orang lain [ Ibnu Abbas, Ibnu Umar oleh Imam Malik dan Nasai]

عن ابن عمر بإسناد صحيح: أنه لا يحج أحد عن أحد

Dari Ibnu Umar menurut riwayat shahi : Bahwasanya tidaklah boleh seseorang mengerjakan hajinya orang lain [ Shahi dalam Fathul Bari , shahi Ibnu Hibban, shahi Ibnu Aisyah]

HADITS HADITS HADIAH PAHALA YANG BERTENTANGAKAN DENGAN QURAN ;

Ibnu Abbas :

أنّ اِمْرَأَةٌ مَنْ خَثْعَمَ قَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ, إِنَّ فَرِيضَةَ اَللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي اَلْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا, لَا يَثْبُتُ عَلَى اَلرَّاحِلَةِ, أَفَأَحُجُّ عَنْهُ? قَالَ: نَعَمْ

Sesungguhnya seorang perempuan dari Kats’am berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya haji yang diwajibkan Allah atas hamba-Nya itu turun ketika ayahku sudah tua bangka, tidak mampu duduk di atas kendaraan. Bolehkah aku berhaji untuknya? Beliau menjawab: “Ya Boleh.” ( HR Bukhari dan Muslim )

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ قَالَ مَنْ شُبْرُمَةُ قَالَ أَخٌ لِي أَوْ قَرِيبٌ لِي قَالَ حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ قَالَ لَا قَالَ حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ

Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shalla Allahu 'alaihi wa sallam mendengar seseorang mengucapkan; Labbaika 'An Syubrumah (ya Allah, aku memenuhi seruan-Mu untuk Syubrumah), beliau bertanya: "Siapakah Syubrumah tersebut?" Dia menjawab; saudaraku! Atau kerabatku! Beliau bertanya: "Apakah engkau telah melaksanakan haji untuk dirimu sendiri?" Dia menjawab; belum! Beliau berkata: "Laksanakan haji untuk dirimu, kemudian berhajilah untuk Syubrumah." (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan hadist ini dishahihkan Ibnu Hibban)

Dalam hal ini sikap segolongan Fuqaha’ menyebutkan :

وقال القرطبي مالك وأصحابه رأوا أن ظاهر حديث الخثعمية مخالف لقوله تعالى ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا ] آل عمران 79 [
Imam Qurtuby berkata : Imam Malik dan pendukungnya menyebutkan , mereka memandang hadits hadits al Khos’amiyah[ Menghajikan orang tua ] bertentangan dengan Firman Allah Ta’ala : “ Allah mewajibkan haji baitullah kepada manusia, bagi siapa yang mampu dijalannya “ [ al Imron 79 ]. Ini terkandung makna orang yang tidak mampu berhaji karena sebab hal hal yang menjadi penyebabnya tidak memikul tanggung jawab kewajiban, termasuk dalam hal ini bukan saja tidak mampu dananya, juga kesehatannya. Membuktikan bahwa ayat tersebut juga tidak membenarkan hadiah pahala kepada orang yang bersangkutan.
وقال القرطبي رأى مالك أن ظاهر حديث الخثعمية مخالف لظاهر القرآن فرجح ظاهر القرآن

Imam Qurtubi berkata : Imam Malik memandang bahwa dzahirnya hadits wanita Khos’amiyati bertentangan dengan Quran, maka Imam Malik memilih dhahirnya Quran [ Fathul Bari 4 : 49 ]

فأعلم رسول الله مثل ما أعلم الله من أن جناية كل امرئ عليه كما عمله له لا لغيره ولا عليه

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memberi tahu sebagaimana Allah memberi tahu, bahwa tiap orang yang berbuat dosa hanya kebinasaan dirinya sendiri, sebagaimana amal baiknya tidaklah untuk lainnya , juga tidak kebinasan orang lain akan menimpa atasnya [ Catatan Pinggir al Um 7 : 269 ]

Berdasarkan perkataan dua Imam tersebut, hadits menghajikan orang tua, meskipun sanadnya shahi, namun matannya mengandung berita batil.  Dalam hal ini ulama hadits menyebutkan :

الحديث الصحيح ما سلم لفظه من ركاكة ومعناه من مخالفة آية أو خبر متواتر أو إجماع وكان رواية عدل

Hadits shahi itu adalah hadits yang selamat lafatnya dari kejanggalan dan selamat maknanya dari menyalahi ayat atau khabar mutawatir atau ijma, dan riwayatnya adil [terpercaya ]. [ATTHORIQATUL MUHAMMADIYAH]

Kesimpulan : Hadiah Pahala dalam Islam bukanlah ajaran agama, apalagi bila memahami amaliyah atau kaifiyat hadiah pahala yang dilakukan umat Islam, nyata sekali, amal perbuatan mereka bukanlah ajaran Islam. Islam itu adalah agama, bila itu bagian agama sudah pasti generasi pertama hingga tabiin berlomba melakukannya dg cara caranya, kenyataannya, hadiah pahala itu bukanlah datang dari Islam, tetapi produk gagal orang orang yang ingin melakukan aborsi terhadap Islam.