Populer

Tampilkan postingan dengan label lebih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lebih. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2016

ABU BAKAR LEBIH BERHAK MENJADI KHALIFAH DARI PADA ALI, DAN ABU BAKAR ADALAH SAHABAT NABI YANG PALING BANYAK ILMUNYA



Berikut ini tulisan yang erat kaitannya dengan:” siapakah yang paling berhak menjadi khalifah sesudah wafatnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam. Syiah dengan klaim dan hadits yang dipakasakan dirahkan kepada Ali bin Abi Thalib, dan umumnya terjadi pengembangan feeling dan asumsi dari sebuah doktrin yang semestinya tidak lahir di Iran, karena hampir seluruh kitab syiah produk Iran, sangat mustahil bisa menerima kebenaran dari bekasnya musuhnya “Arab” yang dulu dikenal bodoh oleh bangsa Iran.

Dalam hadits hadits Nabi, isyarat bahwa Abu Bakar adalah lebih layak tertuang dalam berbagai kitab hadits yang mewartakan “ Siapa Abu Bakar sebenarnya “.

PERTAMA ABU BAKAR GUDANGNYA ILMU ISLAM

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ قَالَ حَدَّثَنِي سَالِمٌ أَبُو النَّضْرِ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
Telah bercerita kepadaku [Abdullah bin Muhammad] telah bercerita kepada kami [Abu 'Amir] telah bercerita kepada kami [Fulaih] berkata, telah bercerita kepadaku [Salim abu an-Nadlar] dari [Busr bin Sa'id] dari [Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu 'anhu] berkata

 قَالَ خَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّاسَ وَقَالَ إِنَّ اللَّهَ خَيَّرَ عَبْدًا بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ ذَلِكَ الْعَبْدُ مَا عِنْدَ اللَّهِ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan khathbah di hadapan manusia lalu bersabda: "Sesungguhnya Allah telah memberi pilihan kepada seorang hamba untuk memilih antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah".

 قَالَ فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ فَعَجِبْنَا لِبُكَائِهِ أَنْ يُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَبْدٍ خُيِّرَ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الْمُخَيَّرَ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ أَعْلَمَنَا

(Abu Sa'id) berkata; "Tiba-tiba Abu Bakr menangis yang membuat kami heran dengan tangisannya hanya karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengabarkan ada seorang hamba yang diminta untuk memilih. Ternyata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah yang dimaksud dengan hamba tersebut. Dan Abu Bakr adalah orang yang paling memahami isyarat itu.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبَا بَكْرٍ وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا غَيْرَ رَبِّي لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الْإِسْلَامِ وَمَوَدَّتُهُ لَا يَبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ بَابٌ إِلَّا سُدَّ إِلَّا بَابَ أَبِي بَكْرٍ

 Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya manusia yang paling terpercaya di hadapanku dalam persahabatannya dan hartanya adalah Abu Bakar. Dan seandainya aku boleh mengambil puncak kekasih selain Rabbku, tentulah Abu Bakar orangnya. Akan tetapi yang ada adalah persaudaraan Islam dan berkasih sayang dalam Islam. Sungguh tidak ada satupun pintu di dalam masjid yang tersisa melainkan akan tertutup kecuali pintu Abu Bakar". [Hadits Bukhari No.3381 Secara Lengkap]


حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ يَعْنِي ابْنَ عُمَيْرٍ عَنِ ابْنِ أَبِي الْمُعَلَّى عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ يَوْمًا فَقَالَ

Telah menceritakan kepada kami [Abul Walid] ia berkata, Telah menceritakan kepada kami [Abu Awanah] dari [Abdul Malik] -yakni Ibnu Umair- dari [Ibnu Abul Mu'alla] dari [Bapaknya], bahwa pada suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah, beliau mengatakan:

 إِنَّ رَجُلًا خَيَّرَهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ بَيْنَ أَنْ يَعِيشَ فِي الدُّنْيَا مَا شَاءَ أَنْ يَعِيشَ فِيهَا وَيَأْكُلَ فِي الدُّنْيَا مَا شَاءَ أَنْ يَأْكُلَ فِيهَا وَبَيْنَ لِقَاءِ رَبِّهِ فَاخْتَارَ لِقَاءَ رَبِّهِ قَالَ فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا تَعْجَبُونَ مِنْ هَذَا الشَّيْخِ

Ada seorang laki-laki yg diberi pilihan oleh Rabbnya Azza wa jalla untuk memilih antara hidup di dunia sesuka hatinya & maka di dalamnya sesuka hatinya, atau berjumpa dgn Rabbnya. Lalu ia pun memilih berjumpa dgn Rabbnya. Abu ?Al Mu'ala berkata, Kemudian Abu Bakar menangis hingga para sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam bertanya, Tidakkah kalian merasa heran dgn orang tua ini (karena tangisannya)?

 أَنْ ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا صَالِحًا خَيَّرَهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ بَيْنَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَبَيْنَ الدُّنْيَا فَاخْتَارَ لِقَاءَ رَبِّهِ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ أَعْلَمَهُمْ بِمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Padahal Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam hanya menceritakan tentang seorang laki-laki shalih yg oleh Rabbnya disuruh memilih antara berjumpa dgn Rabbnya atau memilih hidup di dunia, lalu ia memilih berjumpa dgn Rabbnya -Abu Bakar adl orang yg paling mengerti maksud dari perkataan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam tersebut di antara para sahabat-.

 فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ بَلْ نَفْدِيكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَمْوَالِنَا وَأَبْنَائِنَا

Maka berkatalah Abu bakar: Bahkan kami akan menebus Anda dgn harta & anak-anak kami wahai Rasulullah.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam bersabda:

مَا مِنْ النَّاسِ أَحَدٌ أَمَنُّ عَلَيْنَا فِي صُحْبَتِهِ وَذَاتِ يَدِهِ مِنْ ابْنِ أَبِي قُحَافَةَ وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ ابْنَ أَبِي قُحَافَةَ وَلَكِنْ وُدٌّ وَإِخَاءُ إِيمَانٍ وَلَكِنْ وُدٌّ وَإِخَاءُ إِيمَانٍ مَرَّتَيْنِ وَإِنَّ صَاحِبَكُمْ خَلِيلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Tidak seorang pun di antara manusia yg lebih beriman kepada kami dgn persahabatannya & apa yg telah diberikannya melebihi imannya Ibnu Abu Qahaafah (Abu Bakr), seandaianya aku boleh memilih seorang khalil (kekasih) tentulah aku memilih Ibnu Abu Qahaafah. Akan tetapi yg ada adl kasih sayang & saudara seiman, tetapi yg ada adl kasih satang & saudara seiman -beliau mengatakannya sebanyak dua kali-. Ketahuilah sesungguhnya sahabat kalian ini (Rasulullah adl kekasih Allah Azza wa jalla. [HR. Ahmad No.17178].

ADA PESAN NABI, SEBELUM MENINGGAL RASULULLAH SHALLALLAHU’ALAIHI WASALLAM SUDAH MELANTIK ABU BAKAR ......
Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam dilarang sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah ta’ala bahwa 5 hari menjelang wafatnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam beliau bersabda :

عَنْ جُنْدَبٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Dari Jundab, dia berkata: Lima hari sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku mendengar beliau bersabda: “Aku berlepas diri kepada Allah bahwa aku memiliki kekasih di antara kamu. Karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasihNya sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim menjadi kekasihNya (QS. 4:125-pen). Jika aku menjadikan kekasih di antara umatku, pastilah aku telah menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dahulu telah menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka dan orang-orang sholih mereka sebagai masjid-masjid! Ingatlah, maka janganlah kamu menjadikan kubur-kubur sebagai masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari hal itu!” (HSR. Muslim no:532)
Hadit dibawah ini berkaitan dengan Abu Bakar sebagai pengganti Rasulullah

إن لم تجديني فأت أبا بكر

[ Jika aku tidak ada, datangilah Abu Bakar ] [ Riwayat Imam Bukhari ]


RASULULAH TAU KALAU ABU BAKAR KELAK AKAN DINISTA SYIAH LANATULLAH ...

فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " إن الله بعثني إليكم فقلتم كذبت، وقال أبو بكر صدق.

وواساني بنفسه وماله فهل أنتم تاركوا لي صاحبي " مرتين

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengutusku kepada kalian, lalu kalian mengatakan : “Engkau dusta,” sedangkan Abu Bakr mengatakan : “Dia benar,” lalu dia membantuku dengan harta dan jiwanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku  [HR Bukhari]

Memandang kisah hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam, nyata kalau Abu Bakar Manusia yang memang dinubuwatkan Nabi sebagai Khalilah dan Khalifah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bukan  Ali ....

Jumat, 10 Juni 2016

Bid’ah Itu Lebih Jahat Dari Kejahatan Seksual



Kejahatan seksual atau penjahat kelamin itu adalah kejahatan “dosa besar” , pelakunya harus di rejam, namun dosa penjahat penjahat kelamin ini tidak sebesar dosanya bid’ah, karena ada yang membedakan sifatnya. Bid’ah di lakukan atas nama agamanya, pelakunya [ Shahibul Bid’ah] meyakini bid’ah bisa menjadi kunci ke surga, merasa sebagai amalan yang mengantar mereka ke surga, meskipun kenyataannya melakukan aborsi terhadap agama, juga melakukan talbis Iblis [ mencampur agama dengan warna warni keinginan nafsu manusia yang tidak pada adab pada agama.
Sedangkan Ma’siat [ berzina ] sebagaimana yang dilakukan para penjahat kelamin yang melakukan kejahatan seksual , mereka dipandang “dosa besar” , pelakunya bisa di hukum rejam, namun dosa mereka tidaklah berkembang seperti para pelaku bid’ah yang pamer kebolehan menghiasi agama dengan kebatilan kebatilan pikiran, kemudian dilakukan ribuan orang atau jutaan orang sehingga dari sisi dosa, menjadi dosa multi level , yang bertambah tambah, menjadi tabungan dosa yang jariyah selama, karena pelaku bid’ah tidak pernah merasa, bid’ahnya adalah dosa, bahkan beranggapan bid’ahnya adalah kunci sorga, sehingga banyak manusia yang terpengaruh pemikirannya, mulai dari ulama, hingga orang orang awam. Itulah yang membedakan Bid’ah dan Makshiat, dou dosa besar yang berbeda prosesnya.

As-Syatibi dalam sebuah pendapatnya menyatakan : Bid’ah tidak bisa diremehkan [ sebagai doosa kecil] kecuali jika memenuhi syarat :

1.       أن لا يداوم عليها ، فإنَّ الصغيرة من المعاصي لمن داوم عليها تكبر بالنسبة إليه ؛لأن ذلك ناشئ عن الإصرار عليها، والإصرار على الصغيرة يُصيِّرها كبيرة   

[ Tidak dilakukan terus menerut, karena dosa kecil itu bagian dari makshiat, kalau dilakukan terus menerus akan menjadi dosa besar ]

أن لا يدعو المبتدع إلى بدعته ، فإن البدعة قد تكون صغيرة بالإضافة ثم يدعو مبتدعها إلى القول بها والعمل على مقتضاها ، فيكون إثم ذلك كله عليه .

Pelaku bid’ah tidak mengajak orang lain mengikuti bid’ahnya, mungkin saja bid’ah yang diciptakan itu kecil, tetapi karena mengajak orang lain bergabung dalam bid’ahnya, dia akan mendapat dosa jariyah dari orang orang yang melakukan bid’ahnya.

أن لا يفعلها في المواضع التي هي مجتمعات الناس أو المواضع التي تقام فيها السنن ، وتظهر فيها أعلام الشريعة ، فأما إظهارها في المجتمعات ممن يُقتدى به أو ممن يحسن الظن به، فذلك من أضر الأشياء على سنة الإسلام ؛ لأنه إما أن يقتدي العوام بصاحبها فيها ، وإذا اقتدى بصاحب البدعة الصغيرة كبرت بالنسبة إليه ، أو أن يتوهم الناس أن ما أظهره هو من شعائر الإسلام فكأنه بإظهاره لها يقول : هذه سنة فاتبعوها

Bid’ah itu tidak dilakukan ditempat tempat yang ramai atau ditempat tempat yang dilaksanakan didalamnya Sunah Sunah Nabi dan tampak didalamnya panji panji Syariat, apalagi pada masyarakat yang sudah mengikuti ajaran bid’ah dan berprasangka baik  terhadap bid’ah, karena hal itu akan lebih berbahaya terhadap Sunah islam, bisa jadi bid’ah itu diikuti oleh orang awam awam. Bid’ah kecil yang dilakukan oleh orang banyak, pembuatnya [ penciptanya ] akan menanggung dosa dosa yang dilakukan para pengikutnya. Atau bisa jadi pula manusia akan merasa ragu, apakah yang didakwakannya termasuk syariat Islam atau bukan, karena dengan  seruan atau ajakan itu seakan akan pengelolah bid’ah mengatakan : “ ini adalah sunah, maka ikutilah

أن لا يستصغرها ولا يستحقرها،فإن ذلك استهانة بها،والاستهانة بالذنب أعظم من الذنب فكان ذلك سبباً لعظم ما هو صغير

Tidak meremehkan dan menyepelekan bid’ah , karena menyepelekan dosa [bid’ah] lebih berbahaya dari pada dosa itu sendiri, dan itu bisa menjadi sebab dosa kecil menjadi dosa besar

فإذا تحققت هذه الشروط ، فإن ذلك يرجى أن تكون صغيرتها صغيرة ، فإذا تخلف شرط منها أو أكثر ، صارت كبيرة ، أو خيف أن تكون كبيرة ، كما أن المعاصي كذلك

Jika syarat syarat itu sudah dipenuhi , maka bisa jadi dosa kecil tetap akan jadi dosa kecil , tetapi jika salah satu syaratnya dilanggar , makan dosanya itu akan menjadi dosa besar atau ditakutkan akan menjadi besar. [ al i’tisham As-Syatibi 2 / 65 – 72]

Para Ulama terdahulu sangat besar perhatiannya terhadap bahaya bid’ah, mereka tidak main main dalam menjaga Islam dari pancaran bid’ah yang di produk oleh mereka yang intim dengan bid’ah. Mereka membangun pagar dengan harapan umat bisa tetap berada diatas jalan sunah, bukan jalan ma’shiat model pelaku bid’ah. Berikut ini komentar ulama ulama salaf ;

قول ابن مسعود -رضي الله عنه - :(( الاقتصاد في السنة ، أحسن من الاجتهاد في البدعة ))

  IBNU MA’UD RADHIALLAHU’ANHU berkata : sederhana dalam sunah lebih baik dari  pada bersungguh sungguh [ berijtihad ] dalam bid’ah [Al Hakim dalam Mustadraknya I , 103 hadits shahi Bukhari Muslim , namun keduanya tidak mengeluarkannya]

وقول ابن عباس- رضي الله عنهما -: (( ما أتى على الناس عام إلا أحدثوا فيه بدعة ، وأماتوا فيه سنة حتى تحيا البدع ، وتموت السنن ))

IBNU ABBAS RADHIALLAHU’ANHU :Tidak datang suatu masa kepada manusia kecualia hari hari mereka menyibukkan diri dalam bid’ah , mematikan sunah, sehingga bid’ah subur dan sunah menjadi terkubu” [Al Haitami, Majma’ Zawaid I , 188], diriwayatkan at Thabbrani dalam al Kabir]
قول ابن مسعود -رضي الله عنه - : ((اتبعوا ولا تبتدعوا فقد كُفيتم ))

IBNU MAS’UD RADHIALLAHU’ANHU : “Ikutilah, dan jangan berbuat bid’ah, hal itu cukup bagi kalian” {Riwayat ad Daimi dalam sunannya I, 69, al Haitami dalam Majma’ Zawaid I, 181]

وقال معاذ بن جبل - رضي الله عنه - : (( إن من ورائكم فتناً يكثر فيها المال ، ويفتح فيها القرآن ، حتى يأخذه المؤمن والمنافق ، والرجل والمرأة والصغير والكبير ، والعبد والحر ، فيوشك قائل أن يقول : ما للناس لا يتبعوني وقد قرأت القرآن ؟ ما هم بمتبعي حتى أبتدع لهم غيره . فإياكم وما ابتدع ، فإن ما ابتدع ضلالة ، وأحذركم زيغة الحكيم ، فإن الشيطان قد يقول كلمة الضلالة على لسان الحكيم ، وقد يقول المنافق كلمة الحق ))

MU’ADZ BIN JABAL RADHIALLAHU’ANHU : Sesungguhnya generasi sesudahmua banyak fitnah, manusia banyak menimbun nimbun harta dan Al Quran terbuka sehingga bisa dibaca oleh orang orang Mukmin dan Munafiq, laki laki dan perempuan , kecil dan besar, hamba budak sahaya dan orang merdeka. Hampir setiap orang berkata :” mengapa mereka tidak mengikutiku, padahal aku bisa baca Al Quran ? Mereka mereka tidak mengikutiku, hingga orang lain membuat bid’ah untuk mereka [ konsumsi bid’ah]. Maka jauhilah yang baru [ bid’ah], karena sesuatu baru itu adalah sesat, DAN BERHATI HATILAH KAMU DARI ORANG ORANG ALIM YANG SESAT, MAKA JIKA ORANG ALIM SESAT JANGAN DIIKUTI [ anunul ma’bud XII, 364]-Karena sesungguhnya setan telah mengatakan kalimat yang menyesatkan MELALUI LISAN ORANG YANG ALIM [ ULAMA ] dan kadang orang Munafiq mengatakan kalimat yang benar “ [ Diriwayatkan abu Dau dalam sunannya V.17 dg sanad Mauquf pada Muadz]

Nyata sekali bahaya bid’ah, jadi tidak salah perkataan Sofyan As Tsaury bahwa Bid’ah itu lebih bahaya dari pada Maksiat, karena Bid’ah bisa menjadi multi level untuk menumpuk numpuk dosa, menimbun banyak dosa baik kecil atau besar, dan bisa menjadi penyakit aku yang menular , dan menarik pelakuanya bersatu dalam penyesatan umat. Benar kata Imam Ahmad ketika ditanya :

وسئل الإمام أحمد بن حنبل - رحمه الله - : ( الرجل يصوم ويعتكف أحب إليك ، أو يتكلم في أهل البدع ؟ فقال : إذا قام وصلى واعتكف فإنما هو لنفسه ، وإذا تكلم في أهل البدع فإنما هو للمسلمين هذا أفضل )

IMAM AHMAD BIN HAMBAL RAHIMAHULLAH berkata : Mana orang yang lebih baik antara orang yang berpuasa, sholat dan I’tikaf di Masjid dengan orang yang berbicara tentang Ahlul bid’ah ?, Beliau menjawab : “jika seorang yang hanya shalat, puasa dan i’tikaf, itu hanya untuk dirinya sendiri, tetapi jika ada yang berbicara bid’ah, maka dia berbicara untuk Umat islam, maka ini lebih baik” {Majmu fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah XXVII, 231}


Karena itu menyebarkan sikap anti bid’ah adalah amaliyah ibadah yang menduduki peringkat jihad karena harus berhadapan dengan para pendukung bid’ah , adalah sangat dianjurkan sunah menerangkan bab bab bid’ah kepada umat islam, agar umat Islam berada  tetap diatas jalan yang sunah dan lurus.